Tikar Anyaman Desa Betawua Poso

PADA saat Festival Rumah Katu akhir pekan kemarin di Poso, para pengrajin pembuat tikar yang kebanyakan adalah ibu-ibu dari Betawua memperlihatkan cara membuat tikar. Ibu-ibu itu tampak bersemangat menganyam satu persatu tikar yang dibuatnya.

Dalam membuat tikar, para pengrajin harus mencari daun pandan yang saat ini sangat jarang ditemukan, kemudian dikeringkan lalu diberi pewarna sebelum dianyam untuk dijadikan bahan baku tikar. Para pengrajin ini dalam membuat tikar mampu menganyam setiap harinya mencapai lima hingga tujuh tikar dengan harga jual Rp5.000 hingga Rp100 ribu. Tak heran, para pengunjung pun banyak yang datang membeli tikar dan melihat proses pembuatan yang dilakukan oleh pengrajin tikar asal Betawua.

Ibu Kamsia (45) pengrajin tikar asal Desa Betawua mengaku, jika dirinya sudah hampir 62 tahun bersama teman-teman pengrajin lainnya sampai saat ini masih terus mengembangkan anyaman tikar di saat kondisi zaman sudah moderen sehingga menganyam tikar telah punah. Sulitnya mendapat daun pandan di hutan juga menjadi alasan pihaknya masih mempertahankan tikar, yang dimana hutan-hutan di wilayah Betawua sering dilakukan penyerobotan tanah oleh perusahaan ilegal.

Alamat: Desa Betawua
Kabupaten/Kota: POSO
Provinsi: SULAWESI TENGAH
Telp:
WhatsApp:
PIN BB:
Email: