Bunga Penghias Kesuksesan

Puncak memang terkenal sebagai sentra tanaman hias terbesar di Indonesia, terutama sejak berdirinya Taman Bunga Nusantara pada 10 September 1995. Kisah ini bukan tentang kiprah kebun bunga terbesar di kawasan puncak tersebut. Namun kisah kali ini adalah tentang keberhasilan seorang pengusaha wanita, yang jika dilihat dari latar belakang pendidikannya tak ada orang akan percaya. Dia adalah Neneng Soptiah (42), pendiri Gloria Farm, kelompok petani bunga potong di Kampung Babakan, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur.

Riwayat Usaha

Awal keterlibatan Neneng dalam usaha bunga potong tak bisa dilepaskan dari peran Dadang Sadili, kakak ipar Neneng yang juga pengusaha bunga potong di Cianjur. Pria yang sering dipanggil Haji Dadang adalah karyawan Taman Bunga Nusantara dengan jabatan manajer, yang bertugas membebaskan tanah para petani untuk diambil alih oleh perusahaan yang mengekspor bunga potongnya hingga ke Jepang dan Belanda itu. Tak cukup menjadi orang gajian, Dadang yang belajar bertani bunga potong di perusahaannya dari para konsultan asing, ikut menularkan ilmunya di rumah sebagai petani bunga. Salah seorang yang beruntung memperoleh pengetahuan di bidang bunga adalah Ucang Suparman, yang tak lain adalah suami Neneng sendiri. Dari Dadang inilah Neneng terinspirasi untuk berbisnis bunga potong, meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai pemasar kredit barang-barang kelontong yang dirintisnya sejak tahun 1980-an.

Dibanding ketiga saudara iparnya, Neneng terbilang sebagai orang terakhir yang masuk ke bisnis bunga. Pekerjaan Neneng di bidang bunga potong bermula dari posisi sebagai pedagang bunga. Tugasnya adalah mengumpulkan produksi para petani bunga untuk kemudian dicarikan pembelinya. Berkat penguasaannya atas pasar Neneng bisa melebarkan sayapnya ke bidang produksi, padahal saat itu ia sama sekali belum memiliki lahan. Dengan sedikit uang dan lebih banyak bermodalkan tekad, ia mulai bertanam bunga dengan menggunakan sistem gadai lahan. Gadai lahan adalah praktik meminjam lahan sebagai ganti sejumlah uang yang dititipkan kepada pemilik lahan selama periode tertentu, yang akan dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing bila tiba batas waktunya.

Saat menjalankan usahanya Neneng memang tidak banyak berteori. Ia hanya bergerak cepat menangkap peluang yang datangnya seperti angin. “Dulu saya sih tidak punya bayangan bisa jadi seperti sekarang. Cuma saya percaya diri aja, bahwa saya harus berhasil. Masak orang lain bisa, saya tidak?” kenangnya. Perkataan Neneng memang bukan hanya isapan jempol. Terbukti, kendati tergolong paling akhir masuk di bisnis bunga potong, ia berhasil menyalip yang lainnya. “Usaha Bu Neneng lebih berkembang maju. Hal itu disebabkan karena ia punya keberanian dan wawasan ke depan untuk maju,” tutur Anwaradi, Pemimpin Bank Jabar Banten KCP Cipanas. Anwar memang sangat mengenal baik bisnis keluarga Neneng, karena tiga dari empat kakak beradik tersebut telah dibiayai oleh bank milik Pemda Jabar.

Perkembangan Usaha

Di awal produksinya tahun 1998, Neneng banyak memasarkan bunga potongnya ke Alam Asri, yang mengirimnya ke Jakarta. Omsetnya saat itu mencapai sekitar Rp 10 juta per bulan. Sepuluh tahun kemudian, usaha Neneng berkembang sangat pesat. Ia membalik nasibnya dari seorang pedagang biasa menjadi seorang pengusaha sukses. Berawal dari tidak punya lahan sama sekali, kini ia berhasil menguasai 2,5 hektar lahan yang berlokasi di belakang rumahnya. Jika dulu ia bekerja seorang diri dibantu suaminya, kini ia bekerja sama dengan sekitar 20 petani, anggota kelompok tani yang dibentuknya bernama Gloria Farm. Omsetnya kini pun berada pada kisaran Rp 40 juta sampai 60 juta per bulan. “Dengan adanya permintaan daun Pilo (Philodendron sp.) dan Pikok (Peacock) sejak 2005, ditambah Krisan (Chrisanthemum sp.), pendapatan memang agak meningkat,” tuturnya. Neneng memang baru saja menambah koleksinya yang semula hanya ditanami Krisan dan Peacock, ditambah dengan Pilodendron.

Kemajuan usaha Neneng memang tak lepas dari dukungan perbankan. Sebenarnya jauh sebelum memulai usaha di bidang bunga potong, Neneng sudah berhubungan dengan perbankan. Sayang, sebagian catatan di BRI Unit Cipanas, kreditur pertama Neneng, hilang akibat kebakaran di Pasar Cipanas akhir tahun 2007. Menurut catatan yang tersisa Neneng diketahui sudah menjadi debitur BRI sejak 1998 dengan pinjaman senilai Rp 25 juta. Pinjaman kembali mengucur pada tahun 2001 sebanyak dua kali, masing-masing dengan nilai yang sama Rp 25 juta. Pada waktu itu Neneng menggunakan pinjamannya untuk modal usaha barang-barang dagangan. Selanjutnya tahun 2002, Neneng harus berhubungan dengan BRI KCP (Kantor Cabang Pembantu) Cipanas karena pinjaman yang diajukan sudah di atas Rp 50 juta.

Pinjaman Neneng di BRI KCP Cipanas dimulai sejak tahun 2002, senilai Rp 125 juta, suku bunga 19% per tahun, dan pokok diangsur sebanyak tiga kali, dengan jangka waktu dua tahun. Pinjaman itu terus berkembang sampai Rp 300 juta. Hingga pada tahun 2004, 2005, dan 2006 Neneng mengajukan permohonan perpanjangan atas masa jatuh temponya selama satu tahun. Pada tahun 2007 ia meminta tambahan pinjaman senilai Rp 100 juta, sementara pinjaman sebelumnya masih Rp 300 juta. Dengan total pinjaman Rp 400 juta itu, Neneng mendapatkan jadwal angsur pokok utang selama tiga tahun. Namun setahun kemudian (2008), ia justru kembali mengajukan pinjaman baru senilai Rp 100 juta. Untuk seluruh pinjamannya itu (Rp 500 juta) Neneng dikenakan suku bunga 15% per tahun, dengan pola angsur Rp 20 juta setiap bulan selama tiga tahun.

Saat pinjaman Neneng di BRI KCP Cipanas mencapai Rp 500 juta itulah, ia kembali meminta tambahan kredit untuk perluasan usaha. Sayang permintaan itu ditolak oleh BRI. Pada saat yang sama, Neneng yang sudah lama dilirik oleh Bank Jabar Banten ditawari untuk memperoleh kredit. Awalnya, Neneng ragu. Namun karena Neneng memang membutuhkan dana tersebut, akhirnya Neneng menerima tawaran kredit tersebut. Apalagi Neneng sudah cukup lama mengenal Bank Jabar Banten yang sebelumnya sudah menjadi bank referensi keluarga suaminya. Pendekatan yang sangat kekeluargaan membuat akhirnya Neneng mengambil kesempatan tersebut. Apalagi Bank Jabar Banten bersedia menutup pinjaman Neneng di bank sebelumnya.

Bank Jabar Banten bersedia memberi pinjaman pada Neneng sebesar Rp 750 juta. Dari dana pinjaman tersebut digunakan untuk melunasi pinjaman di BRI sebesar Rp 500 juta dan sisanya untuk membeli modal kerja. Dengan tambahan dana sebesar Rp 250 juta itu, Neneng melakukan ekspansi dengan menambah koleksi bunga Krisannya dengan tanaman Pilodendron, perlengkapan green house, dan modal kerja lainnya. Untuk tanah seluas 2 ribu meter persegi dibutuhkan 50 ribu batang bibit Pilodendron. Dengan harga bibit Rp 3500 per batang, maka Neneng membutuhkan sekitar Rp 175 juta. Sisanya, sekitar Rp 75 juta digunakan Neneng untuk mengganti bibit Krisan, Peacock, dan membangun green house, rumah beratap plastik tembus pandang tempat membesarkan bunga. Dengan demikian, Neneng memiliki kesempatan untuk melakukan ekspansi usaha dari hanya bunga Krisan dan Peacock, ke daun Pilodendron—salah satu kebutuhan pokok dalam tanaman hias yang memang menguntungkan.

Sebagai debitur, Neneng memang tergolong rajin meminjam ke bank. Dari catatan di atas terlihat, hampir setiap tahun ia melakukan pinjaman. “Saya pakai untuk beli lahan dan modal,” ujar Neneng. Seperti diceritakan di awal, Neneng memulai usaha bunga potongnya tahun 1996, dengan tidak memiliki lahan sama sekali. Ia baru membeli lahan pertama kali pada tahun 2002 seluas 2.280 meter persegi. Lahan kedua dibelinya tahun 2003 seluas lebih dari 4.000 meter persegi setelah mendapat kucuran dana tambahan Rp 150 juta. Lahan ketiga ia beli tahun 2007 seluas 6.200 meter persegi. Dan akhirnya pada pertengahan tahun 2008, ia kembali membeli lahan seluas 4.850 meter persegi dengan dana pinjaman dari Bank Jabar Banten.

Dukungan lain yang diterima Neneng selain dari pihak perbankan adalah pendampingan lapangan yang dilakukan oleh Departemen Pertanian. Para petugas penyuluh lapangan (PPL) biasanya melakukan kontrol secara berkala terhadap lahan bunga Neneng. Kedatangan mereka tidak tentu, bisa satu bulan sekali, dua bulan sekali, bahkan tiga bulan sekali. Dan pada umumnya mereka sudah tidak terlalu gelisah dengan kondisi lahan Neneng. Agaknya tak berlebihan bila para petugas penyuluh lapangan cenderung mempercayai kelompok tani binaan Neneng. Pasalnya, dalam kelompok tani Gloria Farm sudah ada bagian yang menangani masalah produksi. “Kalau ada apa-apa, petani ingin belajar, biasanya datang kepada Kang Ade, Ketua Seksi Produksinya, untuk dibimbing,” papar Neneng. Tak cuma petugas penyuluh lapangan yang memuji kerja kelompok tani dampingan Neneng, bahkan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pun berkenan memberi penghargaan Upakarti pada 2005 silam. Neneng dinilai bisa menjadi inspirasi bagi para pengusaha kecil dan menengah di bidang agribisnis pada tingkat nasional.

Kiat Usaha

Omset bunga Neneng per tahun kini sudah mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Suatu jumlah yang fantastis mengingat pendidikannya tidak lebih dari sekolah dasar. Apa sebenarnya kunci keberhasilan Neneng, hingga usahanya maju sedemikian pesat? Dari hasil wawancara setidaknya terungkap beberapa keunggulan Neneng dibandingkan pengusaha bunga di daerahnya—bahkan pengusaha pada umumnya.

Pertama, ia mau terlibat penuh dalam mengelola pasar. Jika kendala usaha kecil dan menengah pada umumnya adalah mencari pasar, beruntung Neneng memulai bisnisnya justru di bidang pemasaran. Pesanan bunga potong Neneng selalu saja ada setiap minggunya. Dengan demikian, ia memanen tanamannya secara rutin. Bila pesanan yang datang jumlahnya cukup banyak, mereka akan menyiapkannya mulai dari hari Rabu. Kalau dulu ia harus memasarkan ke Alam Asri, kini para tengkulak yang aktif menyambangi rumahnya. Ia biasanya melayani permintaan untuk pesanan rangkaian bunga dan sisanya untuk dijual ke toko-toko bunga (florist) seperti di Rawabelong (Jakarta). Neneng pun rela untuk mencari produsen bunga lainnya—di saat ia tidak memiliki bunga tertentu untuk memenuhi permintaan pasar.

Kedua, ia menguasai bidang penanaman bunga dengan membangun jaringan kerja bersama (kemitraan) para petani bunga di sekitarnya. Seperti telah disinggung di awal, Neneng merupakan pendiri kelompok tani yang diberi nama Gloria Farm. Sebagai penggagas kelompok tani, Neneng punya komitmen untuk memajukan petani yang belum mandiri. Mereka disediakan lahan, diberi bibit, dibantu proses produksinya, dan ditampung hasil produknya. Atas kerjanya para petani mendapatkan upah, dan sisa keuntungan dari penjualan bunga menjadi milik Neneng, selaku pemilik lahan. Bila para petani dampingan Neneng sudah cukup mandiri, mereka diperbolehkan menjual bunganya kepada pihak lain. Dari kelompok petani ini pula Neneng mendapatkan kepastian dalam pengadaan bunga potongnya. Kepada petani yang sudah mandiri, ia bisa menjual bibit dan menarik sewa atas lahannya.

Ketiga, ia mengelola keuangan secara rapi dan menjalankan pola hidup sederhana. Keluarga Neneng bisa tergolong keluarga seder hana. Secara kasat mata kita akan bisa melihatnya dari kondisi rumah tinggalnya yang belum sempurna dibangun. Apalagi kalau melihat penampilan ibu beranak empat laki-laki ini dalam kesehariannya. Sebagai pengusaha beromset Rp 40 juta sebulan, ia tak canggung harus mondar-mandir melayani konsumen dengan membonceng sepeda motor. Kendaraan terbaiknya adalah mobil bak terbuka, itu pun digunakan untuk operasional usaha. Karena kesederhanaan dan kerajinannya itu, bank tetap memberikan pinjaman kepada Neneng.

Keempat, ia membuka kerja sama dengan perbankan. Awal keterlibatan Neneng dengan perbankan sebenarnya telah terjadi saat ia masih bekerja sebagai pemasar kredit barang-barang kelontong. Bermula dari pinjaman senilai Rp 200 ribu, kebutuhan akan dana pinjaman berangsur-angsur meningkat manakala ia beralih usaha di bidang bunga potong. Dengan dana pinjaman bank itu Neneng membeli, bibit, pupuk, dan peralatan. Dari kemampuannya mengelola dana pinjaman tersebut, ia akhirnya dipercaya untuk mendapatkan pinjaman dari Bank Jabar Banten sebesar Rp 750 juta pada tahun 2008 untuk keperluan modal kerja.

Kendala Usaha

Namun di atas semua prestasi yang diraih Neneng, ada beberapa kendala yang sebenarnya masih menjadi kendala usaha kecil dan menengah pada umumnya. Kendala tersebut adalah lemahnya kemampuan pencatatan keuangan. Pentingnya pencatatan keuangan dalam bisnis bahkan tidak disadari sepenuhnya oleh Neneng. “Kalau petani mah ngitungnya begini, asalkan kita nggak punya utang. Produksi jalan, modal ada, rumah beres, tabungan ada, sawah bisa terus tanam,” papar Neneng. Ungkapan polos Neneng tersebut agaknya bisa menjadi cerminan pemahaman pengusaha kecil dan menengah khususnya mikro akan keuntungan usaha. Bagi mereka, keuntungan bisa dihitung dari selisih pendapatan atas biaya-biaya kebutuhan lahan seperti bibit, pupuk, dan tenaga kerja.

Sebenarnya pencatatan keuangan tidak sekadar menghitung berapa keuntungan usaha. Dengan membuat laporan keuangan berarti mencegah tercampurnya penggunaan uang untuk kebutuhan rumah tangga dengan kebutuhan usaha. “Yang bahaya, kalau keuntungannya saja belum jelas, mereka sudah bikin rumah, lalu beli kendaraan untuk main,” tutur Anwar yang tahu benar masalah ini biasa dialami oleh pengusaha muda. Kendati tidak membuat laporan keuangan, Neneng sendiri sebenarnya punya strategi pengelolaan keuangan yang cukup rapi. Ia mengalokasikan pendapatannya dari jenis tanaman tertentu untuk keperluan usaha (termasuk membayar pinjaman) dan dari jenis tanaman lainnya untuk memenuhi keperluan rumah tangga.

Kendati sudah cukup rapi, Neneng ternyata sempat tersandung oleh masalah piutang yang tak tertagih. Pesanan bunga potong dariBandung yang nilainya Rp 71,2 juta sudah tiga tahun ini tidak ada tanda-tanda bisa terlunasi. Neneng memang suka menunda penagihan pembayaran dengan maksud agar jumlah pembayarannya bisa sekaligus besar. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kesanggupan untuk membayar utang kini hanya tinggal secarik kuitansi kumal yang tak jelas kapan bisa terlunasi. Sejak itu Neneng menerapkan sistem pelunasan tagihan yang ketat setiap tiga bulan sejak pengiriman barang. “Perhitungannya dilakukan setiap tanggal 30. Saya terapkan sejak tahun 2005,” ujar Neneng dengan wajah penuh penyesalan.

Tidak ada yang menyangkal kalau Neneng adalah pengusaha yang ulet. “Banyak perintis usaha di bidang bunga potong yang lebih dulu dari dia, tetapi tidak sedikit yang tumbang,” Bubun Bunyamin, account officer Bank Rakyat Indonesia KCP Cipanas memberikan gambaran. Masalah para pengusaha tersebut bukan terletak pada sisi produksi, melainkan di sisi pemasarannya. Neneng sendiri yang memang mengawali pekerjaannya di bidang pemasaran berhasil menjadi tiang penyangga bagi usahanya. Ia berperan besar dalam membuka celah-celah pasar. Berbekal karakter pribadi yang bagus, Neneng bisa dengan mudah membina relasi dengan berbagai pihak. Tak cuma kuat dalam hal pemasaran, Neneng juga memperkuat aspek produksinya. Berkat bimbingan teknis dari Departemen Pertanian, ia berhasil membentuk kelompok tani untuk menangani produksi. Dengan demikian, berhektar-hektar area yang dimilikinya tidak dikelolanya sendiri.

Jika kita melihat latar belakang pendidikan Neneng, kita tidak menyangka keberhasilannya sedemikian rupa. Namun, Neneng menyadari kekurangannya itu. Dengan tekad menjadikan anak-anaknya lebih baik dari dirinya, kini ia berhasil menyekolahkan keempat anak laki-lakinya ke jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi. Agaknya keuletan Neneng dalam berusaha telah menjadi inspirasi bagi anak-anaknya dalam menempuh pendidikan. Dua di antaranya memilih pertanian sebagai bidang studinya, sedang dua lainnya kini masih mencari masa depannya.

Meski separuh masa depan anak-anaknya telah berada di genggaman tangan, namun perempuan yang menikah sejak usia 15 tahun ini belum lagi merasa puas dengan prestasinya. Salah satu cita-citanya adalah adanya akses masuk yang lebih mudah menuju lahan usahanya. “Mudah-mudahan Allah memberikan rezeki-Nya, sehingga tanah di belakang rumah kami bisa terbeli. Jadi enak kalau masuk ke lokasi, kalau beli pupuk kandang atau pupuk kimia bisa gampang menurunkannya. Kalau sekarang kan dipikul sampai ke lokasi,” jelas Neneng. Selain itu, Neneng juga ingin sekali membuat showroom di bagian depan rumahnya. Di tempat itu antara lain ia ingin menyediakan peralatan green house untuk memasok para petani anggota kelompok taninya, Gloria Farm. “Supaya mereka tidak kerepotan kalau mau membangun green house,” tutur Neneng. Sesederhana itu cita-citanya. Namun kesederhanaan itulah yang membawanya sampai ke gerbang kesuksesan, sesuatu yang kembali menjadi pijakan untuk mencapai cita-cita berikutnya. Pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji menjadi sepotong asa yang masih ia gantungkan tinggi-tinggi.