Lestari Songketku Lestari Devisaku

Bagi kota Palembang, kain songket menjadi salah satu ikon yang terkenal. Kain penutup bagian bawah tubuh wanita dan dipadankan dengan selendang itu biasanya memiliki nilai sejarah. Kain yang biasanya dipakai saat perayaan pernikahan itu bisa jadi merupakan peninggalan nenek moyang pemilik yang ditenun hingga bertahun-tahun, bisa merupakan mahar, atau sebagai benda koleksi keluarga yang berharga. Hj. Eka Rachman merupakan sosok ibu muda yang pantang menyerah dalam melestarikan kain songket, salah satu peninggalan sejarah tak ternilai dari kerajaan Sriwijaya. Ia mengembangkan usaha kain songket melalui Pesona Bari, perusahaan milik keluarganya, yang diwariskan turun-temurun. Anak kedua dari empat bersaudara ini mengelolanya dengan serius hingga bisa dikenal di manca negara.

Riwayat Usaha

Pesona Bari terletak di Jalan Kapten Cek Syeh, Kelurahan 24 Ilir Palembang. Perusahaan ini dikelola secara turun-temurun dari tahun 1952 di daerah Kertapati. Generasi pertama yang mengelolanya adalah Muhammad, yang kemudian dilanjutkan oleh puteranya bernama Arsyad. Pada saat itu, keluarga hanya membuat satu songket dengan alat yang dibuat sendiri. Mereka pun menjual kain songket buatannya dari rumah ke rumah dengan modal sendiri. Setelah Arsyad meninggal, industri kerajinan tersebut diteruskan oleh istrinya. Pada generasi ketigalah, usaha kerajinan songket Pesona Bari mulai berkembang. Pada saat itu dikelola oleh Hajah Nuttefah dan saat ini sudah dikelola oleh generasi keempat, yaitu Hajah Eka Rachman.

Nama Pesona Bari pun baru muncul pada tahun 1991. Pada tahun itu, kerajinan songket keluarga Eka mendapat juara I Gugus Kendali Mutu (GKM) se-Sumatera. Sejak itu, Eka memberi nama industri kerajinan tenun songket keluarganya dengan nama Pesona. Dengan nama tersebut, Eka berharap kain tenun buatan keluarganya dapat terus menarik perhatian dan mengagumkan. Tidak lama berselang, Eka menambahkan nama industri songketnya dengan kata Bari. Kata tersebut merupakan bahasa Palembang yang berarti kuno, antik, dan mewah. Dengan nama Pesona Bari, Eka berharap kerajinan tenun songket keluarganya tidak hanya bersifat mengagumkan, tetapi juga memiliki nilai seni yang antik dan mewah.

Sebagaimana bisnis pada umumnya, usaha kerajinan songket milik keluarga Eka juga tidak lepas dari berbagai kendala. Kesulitan yang dihadapi, di antaranya adalah pengadaan bahan baku lokal. Menurutnya, kualitas bahan baku dalam negeri terkadang berubah jika ada permintaan yang cukup banyak. Oleh karena itu, bahan baku songket Pesona Bari banyak menggunakan bahan impor, baik berupa bahan dan benang sutera maupun benang emas. Namun, karena berasal dari bahan baku impor, harganya pun otomatis terpengaruh oleh fluktuasi dolar.

”Saya pernah mencoba menggunakan bahan baku dalam negeri. Saat saya membuat satu contoh, bahannya bagus. Tetapi, ketika saya mendapat pesanan dari luar negeri dalam jumlah banyak, ternyata bahan yang saya pesan itu berubah kualitasnya. Saya merasa kecewa sekali. Sejak itu, saya sangat berhati-hati dalam memilih bahan baku,” paparnya.

Ia menuturkan, tantangan terberat bagi Pesona Bari adalah saat krisis ekonomi pada 1997/1998. Pada waktu itu, industri songket keluarganya baru mendapat pesanan dari Amerika Serikat. Saat pesanan baru selesai 25%, harga bahan baku sudah melonjak hingga 200%. Kenaikan harga itu membuat keluarganya harus merelakan barang-barang yang ada di rumah untuk dijual agar pesanan dapat selesai tepat waktu. ”Kami bukan lagi rugi, tetapi sudah habis-habisan, karena semua barang di rumah harus kami jual untuk membeli bahan baku dan biaya produksi agar kualitasnya tetap bagus. Keluarga saya sudah berkomitmen pesanan ini harus terpenuhi dan selesai tepat waktu. Satu hal yang kami pegang saat itu adalah menjaga kepercayaan konsumen,” ungkap Eka.

Pengorbanan yang dilakukan keluarga Eka tidaklah sia-sia. Meskipun harga bahan baku melonjak sangat tajam, hasil yang diperoleh dari pesanan tersebut ternyata mampu menutupi biaya-biaya yang dikeluarkan karena dibayar dalam mata uang dolar. ”Alhamdulillah, Allah Mahatahu. Jadi, semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan bisa kembali,” tambahnya.

Dari pengalaman krisis ekonomi tersebut, Eka memutuskan akan lebih baik jika bahan baku dibeli dalam jumlah besar di awal sebelum ada order. Ia mencontohkan, saat Pesona Bari mendapat pesanan 1000 potong songket dari Jepang dan London, ia harus menyimpan persediaan bahan baku paling tidak untuk 2000 potong. Dengan demikian jika sewaktu-waktu ada pesanan lain, pesanan yang pertama berjalan dan pesanan berikutnya juga bisa dikerjakan. Menurut Eka, konsumen dari luar negeri sangat memperhatikan kualitas sehingga bahan baku yang digunakan tidak bisa berbeda-beda. ”Mutu bahannya harus sama dan hasilnya juga harus sama. Selain itu, harga juga tidak akan berubah-ubah. Tiga hal ini yang terus dijaga. Jadi, saya berpikir bagaimana memenuhi seluruh pesanan tersebut,” papar Eka.

Peran Serta Kredit Bank

Pada tahun 2007 akhirnya Eka memberanikan diri melirik kredit perbankan untuk UMKM dari Bank BNI. Namun sebelumnya, ia telah mensurvei berbagai bank untuk membandingkan suku bunga yang ditawarkan. Ternyata suku bunga dari BNI-lah yang lebih menarik, sekitar 0,8%-0,9% per bulan. Dengan kucuran kredit sebesar Rp 500 juta, Eka dapat memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Kredit tersebut seluruhnya digunakan Eka untuk membeli bahan baku impor. Dengan bertambahnya pesanan, terutama dari luar negeri, omset Pesona Bari meningkat sekitar 25%.

Setelah mendapatkan kredit bank, selain dapat menyimpan bahan baku dalam jumlah banyak, Eka juga dapat memperluas cakupan usahanya. Di toko yang sekaligus rumahnya, Eka tidak hanya menjual kain tenun songket. Ia mencoba untuk menjual sepatu, mukena, guci antik, tas pesta, pakaian, perhiasan untuk pernikahan adat Palembang, kain jumput, dan suvenir. ”Tambahan barang-barang yang ada seiring waktu saja. Saya tidak pernah menargetkan. Pada awalnya terpikirkan karena ketika ada orang membeli songket, mereka mengeluh sulit untuk mencari tas atau sepatu yang senada. Dari keluhan tersebut, saya melihat adanya peluang bisnis,” ujar Eka dengan ramah.

Kredit Bank BNI yang diterima Eka adalah untuk modal kerja dengan jangka waktu 2 tahun terhitung sejak 2007 s/d 2009. Ia memutuskan menerima kredit tersebut karena ia yakin dan masih bisa menyisihkan pendapatannya untuk perluasan usaha. ”Pada awalnya, saya memilih kredit yang sistem angsurannya bisa langsung bayar saat ada uang, karena saya tidak mau kepikiran. Tapi, dalam perjalanan waktu saya berubah pikiran. Akhirnya, saya ubah sistem kreditnya yang flat dengan pertimbangan besarnya angsuran pokok dan bunga setiap bulannya dapat diketahui dengan jelas. Selain itu, dengan sistem ini uang dari hasil pesanan masih bisa dimanfaatkan lebih dulu. Toh, bank tidak mempersoalkan itu asalkan kita tidak menunggak. Tidak hanya dengan konsumen, untuk urusan bank saya juga berpedoman menjaga kepercayaan,” jelasnya.

Di lain pihak, BNI sebagai bank yang telah menyalurkan kredit kepada Eka pun merasa bangga karena binaannya dapat berkembang dengan cepat. Pihak bank juga banyak membantu kemajuan Pesona Bari, seperti dari pemberian informasi mengenai penyedia bahan baku yang murah dan berkualitas, membantu mengajarkan manajemen keuangan sederhana, bahkan sampai ke tingkat pemasaran dengan mengikutsertakan Pesona Bari dalam pameran kerajinan tenun dan pameran produksi ekspor yang diselenggarakan baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional. Pihak bank juga membantu menginformasikan produk-produk Pesona Bari kepada calon pembeli potensial yang berasal dari debitur (nasabah) bank. Dengan demikian, produk–produk buatan Eka perlahan dan pasti dikenal masyarakat luas.

Namun, di luar itu, pihak bank sebenarnya merasa kesulitan dalam menyalurkan kredit UMKM di wilayah Palembang karena tidak adanya klaster/kelompok usaha. Akibatnya, kredit harus dikucurkan secara perorangan. Selain itu, modal untuk industri songket sangat besar, sekitar Rp 500 juta–Rp 1 miliar, sehingga kredit Rp 5 juta atau Rp 10 juta tidak akan mencukupi. Pihak bank sendiri telah membantu kemajuan UMKM, seperti dari pemberian informasi mengenai penyedia bahan baku, membantu mengajarkan manajemen keuangan UMKM, bahkan sampai ke tingkat pemasaran dengan mengikutsertakan Pesona Bari pada pameran kerajinan tenun, pameran produksi ekspor yang diselenggarakan baik pada tingkat daerah maupun tingkat nasional dan pihak bank juga membantu menginformasikan kepada calon pembeli potensial yang berasal dari debitur (nasabah) bank. Satu hal yang tidak kalah penting yaitu pihak bank pun terkadang memberi masukan untuk perbaikan produk UMKM—dalam hal ini songket Pesona Bari.

Direktur Sentra Kredit Kecil BNI cabang Palembang, Hasrul Siregar, mengungkapkan, sebelum memberikan kredit kepada Eka, BNI melihat kelayakan usaha, bukan jaminan. ”Dengan menilai layak atau tidaknya, kami bisa melihat kemampuan membayarnya karena dapat dinilai dari omset, laba, dan biaya yang dikeluarkan setiap bulan. Jadi, pendekatan yang kami gunakan adalah berdasarkan laba. Kami juga melihat kredit tersebut digunakan untuk apa. Dengan debitur, kami menekankan keterbukaan laporan keuangan,” paparnya.

Suharman, Account Officer Sentra Kredit Kecil BNI, menambahkan, strategi BNI dalam mengucurkan kredit kepada UMKM adalah pelayanan yang cepat, yaitu hanya sekitar satu minggu. Selain itu, tingkat suku bunga yang dapat dikatakan rendah. Perbedaannya dengan suku bunga bank lain sekitar 0,2%. Bank juga berfungsi sebagai konsultan manajemen bagi UMKM. Ia mencontohkan, pihaknya melakukan pembinaan sebulan sekali, seperti menanyakan perkembangan usaha, apakah omset menurun atau tidak. Jika menurun, pihaknya membahas bersama dengan debitur di mana letak persoalannya. Bank juga membuka jaringan bagi debitur untuk mendapatkan bahan baku.

”Untuk syarat kredit UMKM, kan sudah jelas bahwa kredit di bawah Rp 150 juta yang dibutuhkan hanyalah surat keterangan izin usaha dari kecamatan dan kelurahan. Tetapi, kalau di atas Rp 150 juta membutuhkan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), SITU (Surat Izin Tempat Usaha), TDP (Tanda Daftar Perusahaan),” ungkapnya. Menurut Hasrul, terkadang modal bukanlah persoalan utama bagi UMKM, terutama untuk industri tenun songket. Secara pribadi, ia mengusulkan, semua pelayanan sebaiknya memang dilakukan dalam satu atap.

Dalam memajukan UMKM, tidak bisa hanya pihak bank saja yang harus berperan. Peran pihak Pemda pun perlu ditingkatkan. Pemda Sumsel juga perlu memberikan info pasar kepada para UMKM. Sebagai contoh, kerajinan tenun lebih berprospek untuk diekspor ke negara mana saja. Selain itu, harus jelas sektor apa saja yang menjadi keunggulan masing-masing daerah. Jadi, selain Visit Musi, sebaiknya juga harus ada Visit UMKM Palembang. Dengan demikian, Palembang diharapkan dapat menjadi contoh profil UMKM yang sukses. ”Semua departemen terkait harus memiliki satu visi memajukan UMKM. Jangan berjalan sendiri-sendiri,” ujar Hasrul dengan bersemangat.

Sekilas tentang Songket

Kain tenun songket Palembang dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, dan kesabaran yang sangat tinggi. Tidak salah jika gemerlap dan kilauan emas yang terpancar dari kain tenun ini memberikan kesan mewah tak tertandingi. Kemampuan menenun tersebut biasanya diwariskan secara turun temurun dalam satu keluarga. Tenun songket biasanya diberi motif berwarna emas. Benang emas yang dipakai ada tiga jenis, yaitu benang emas cabutan, benang emas sartibi, dan benang emas Bangkok.

Bahan baku pembuatan songket hampir seluruhnya diimpor. Hal ini membuat harga kain songket tergolong mahal. Benang sutera dan benang emas sudah sejak dahulu diimpor dari China, India, dan Thailand. Sebenarnya benang sutera lokal dapat digunakan, tetapi agak susah ditenun. Selain faktor bahan baku yang dipakai, harga kain songket juga ditentukan oleh pola motifnya, apakah penuh atau hanya tabur. Makin penuh motif, tentu harganya makin mahal. Tingkat kerapatan tenunan songket juga turut memengaruhi harga.

Untuk menghasilkan songket yang memiliki nilai seni yang tinggi, bahan baku yang digunakan Pesona Bari adalah benang emas cabutan atau biasa disebut dengan benang emas jantung. Pada masa lampau, benang emas memang diproduksi dari bahan emas murni dan dikerjakan dengan tangan sehingga harganya sangat mahal. Namun, pada saat ini benang tersebut sudah tidak diproduksi lagi. Oleh karena itu, Pesona Bari menyiasatinya dengan mencari kain songket yang sudah rusak. Kemudian, benang emasnya dicabut dan diurai kembali. Benang emas cabutan masih kuat karena dibuat dari benang katun yang dicelupkan ke dalam cairan emas 24 karat. Pengerjaan yang rumit dengan mengurai kembali benang yang sudah ditenun ini menghasilkan kain songket baru yang berkesan antik.

Langkah selanjutnya yaitu benang emas tersebut ditenun kembali dengan benang sutera yang baru. Kain songket jenis ini disebut kain songket cukitan atau kain songket cabutan. Selain itu, benang sutera yang digunakan untuk pembuatan kain yang berkualitas, biasanya adalah benang sutera untuk pakan yang digunakan untuk lungsen. Semua material tersebut merupakan bahan inti pembuatan songket. Selain bahan inti, diperlukan juga bahan pendukung, yaitu berupa obat celup, sabun soda, dan bahan celup yang kesemuanya digunakan untuk pemberian warna kain songket.

Dalam proses produksinya, kerajinan tenun songket Pesona Bari menggunakan peralatan yang masih tradisional dan dikerjakan dengan tangan. Di antaranya, alat-alat dari kayu yang digunakan adalah dayan. Alat ini digunakan untuk menggulung benang lungsen. Ada juga alat bernama apit yang digunakan untuk menggulung benang yang telah ditenun. Cacak merupakan alat penahan yang digunakan untuk memasukkan lungsen, sementara betira berfungsi untuk merapatkan benang. Alat lainnya yang digunakan adalah buluh, lidi, dan pur.

Dengan komitmen untuk terus menjaga kualitas songket, tidak salah jika pada tahun 1992 kerajinan songket keluarga Eka mendapat penghargaan tertinggi di bidang jasa pengabdian pengrajin tenun berupa Upakarti dari Presiden Soeharto. Berkat rajin mengikuti berbagai pameran, industri kerajinan tenun songket Pesona Bari berkembang pesat tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga sudah merambah ke dunia internasional. Pada tahun 2004, Pesona Bari menjadi wakil kehormatan kerajinan buatan tangan dan pariwisata Indonesia dalam ajang Asean Tourism Fair yang diikuti 16 negara di Tokyo, Jepang. Bahkan pada tahun 2007, Pesona Bari menjadi wakil Indonesia dalam program acara macthmaking investor di Edinburgh, London.

Falsafah Hidup

Pada saat ini, Eka dapat memberdayakan 125 orang. Jumlah tersebut terdiri dari pencukit 2 orang, pencelup 2 orang, penggulung benang 2 orang dan penenun sebanyak 119 orang. Dari 125 orang tersebut sebanyak 40 orang merupakan tenaga kerja tetap dan 85 orang sebagai tenaga kerja tidak tetap (freelancer). Karyawan yang ada saat ini, sebagian adalah orang-orang yang dulu bekerja pada ibunya. Begitu juga alat-alat yang digunakan sebagian masih warisan. Dengan mempekerjakan 125 karyawan, Eka telah memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Di samping itu, industri songket Pesona Bari telah ikut menunjang dan melestarikan budaya bangsa. Dengan kata lain, Pesona Bari telah berperan menunjang dan memajukan perekonomian daerah setempat serta menciptakan keunggulan kompetitif.

Tahun depan, Eka bercita-cita memiliki showroom di daerah Kemang, Jakarta. Menurutnya, di daerah tersebut banyak peluang untuk mengembangkan kain songket Palembang, karena kawasan itu merupakan kawasan pemukiman ekspatriat. Para ekspatriat sangat menghargai hasil karya buatan tangan. Selain itu, mereka tidak sayang untuk membeli sesuatu jika memang suatu barang memiliki nilai seni yang tinggi. Eka berencana untuk perluasan usaha tersebut juga dengan meminjam dari BNI. Namun, semua itu harus direncanakan dengan matang. Menurut Eka, ia harus mempertimbangkan secara detail apakah letak showroom tersebut sudah benar-benar strategis, tenaga kerjanya, omset yang akan didapat, dan persoalan teknis lainnya.

Satu hal yang masih Eka mimpikan saat ini dari pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat, yaitu mematenkan kain tenun songket sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang bernilai tinggi. Jangan sampai orang luar negeri yang lebih dulu mematenkannya. Semua pihak harus bekerja sama dalam melestarikan budaya songket agar terus tumbuh. Pelestarian budaya tidak bisa hanya dari orang per orang. ”Saya selalu ingat pesan ayah saya bahwa jika menyapu hanya dengan satu lidi, tidak akan pernah bisa bersih. Tapi, kalau menyapu dengan banyak lidi yang diikat dengan kuat, pasti bersih. Falsafah itu yang seharusnya dipegang oleh pengusaha songket dan pemerintah,” katanya.

Eka yang saat ini sedang menyelesaikan tesisnya di Magister Manajemen Universitas Sriwijaya menegaskan, falsafah hidup yang diturunkan oleh ibunya adalah kejujuran, sikap kekeluargaan, dan menjaga kepercayaan dari pelanggan. ”Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah terus belajar. Jangan mudah berpuas diri. Saya malah senang jika ada pelanggan yang mau memberi kritik membangun. Dari kritik itu, saya bisa jadi lebih maju,” tegasnya.

Tidak hanya menjaga kepercayaan dari pelanggan saja, tetapi juga harus menjaga kepercayaan dari pihak bank yang telah memberikan kucuran kredit dan melakukan pembinaan. ”Saya berusaha untuk tidak mengecewakan, baik pelanggan maupun pihak bank karena satu kali seseorang dikecewakan, orang tersebut akan sulit untuk kembali percaya kepada kita,” tuturnya dengan rendah hati. Prinsip-prinsip hidup itulah yang membuat Pesona Bari terus berkembang. Prinsip hidup yang perlu dicontoh oleh siapa pun, baik UMKM maupun yang baru akan memulai usaha.