Kaya Raya Berkebun Salak

Apabila Anda dari Jakarta hendak menuju kota-kota di Jawa Tengah bagian timur atau ke Yogyakarta, cobalah mengambil jalur tengah: Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, dan Temanggung. Setelah melewati kota Banjarnegara menuju Wonosobo, Anda akan menemukan banyak sekali kebun salak di sepanjang tepi jalan. Rupanya, para petani di Banjarnegara dan sekitarnya tengah dilanda demam salak. Mereka mengganti tanaman jagung, singkong, kayu Albasiah, dan padi dengan pohon-pohon salak. Mereka beralasan, salak bisa dipanen dua kali dalam sebulan, terus-menerus sepanjang tahun. Lebih dari itu, harga jualnya jauh lebih tinggi dibanding padi, jagung, apalagi singkong. Salak pula yang menyebabkan Eko Sutarji (43), petani asal Banjarnegara, kini menjadi kaya raya.

Berkenalan dengan Salak

Eko Sutarji terjun ke “dunia salak” sejak tahun 1995 dengan menyewa lahan. Setelah mendapat dukungan sebuah Bank Perkreditan Rakyat, kini ia memiliki kebun salak lebih dari 5 hektar, dengan penghasilan puluhan juta rupiah per bulan. Eko Sutarji merupakan salah seorang yang terlibat dalam proses ‘salakisasi’ di Banjarnegara.

Awalnya, Pak Tarji, demikian panggilan sehari-hari Eko Sutarji, bukanlah seorang petani. Sebelum tahun 1995, Pak Tarji bekerja serabutan untuk menghidupi keluarganya. Pria asli kelahiran Kecamatan Madukara, Banjarnegara ini hanya memiliki tanah seluas 300 meter persegi warisan orang tuanya.

Untuk menghidupi keluarganya, tentu tanah tersebut tidak cukup. Ia pun harus berjualan makanan. Namun, hasil berjualan makanan belum cukup untuk menopang kebutuhan keluarganya. Tanpa putus asa, Eko Sutarji juga menjajal sebagai penjual kayu. Namun Pak Tarji tidak bertahan lama sebagai penjual kayu. Selain kurang menguntungkan, pekerjaan ini sangat berisiko karena dapat tertimpa pohon saat menebang, jatuh saat memanjat, dan terkena gergaji sewaktu memotong kayu.

Akhirnya Pak Tarji berkenalan dengan salak pada 1993, ketika pemerintah daerah Banjarnegara menjalankan program penanaman salak di beberapa kecamatan. Demi menyukseskan program tersebut, pemerintah daerah memerlukan sekitar 500 ribu bibit salak untuk dibagikan kepada petani. Pak Tarji yang sedang kesulitan ekonomi, tidak melewatkan kesempatan ini. Dia ikut mencari bibit salak di Kabupaten Sleman untuk dijual ke pemerintah daerah. Usaha ini dijalaninya lebih dari tiga tahun. Sejak itulah Pak Tarji mengenal berbagai jenis salak.

Sebenarnya di wilayah Banjarnegara dan Banyumas telah lama tumbuh jenis salak yang oleh kalangan petani disebut sebagai salak Manggala. Orang awam menyebutnya salak Banjarnegara atau salak Banyumas. Jenis salak ini berukuran besar, bijinya besar, dagingnya tipis dan rasanya agak sepat. Meskipun ukurannya besar-besar, salak Banjarnegara berharga murah. Oleh karena itu, petani lebih suka menanam jagung, singkong, dan cengkeh daripada menanam salak jenis ini.

Berbeda dengan salak Manggala, petani di Banjarnegara saat ini menggemari salak Lumut. Kata “lumut” itu sendiri berasal dari Nglumut, nama sebuah desa di Kabupaten Magelang. Orang awam menyebutnya sebagai salak Pondoh, karena memang sama jenisnya dengan salak yang tumbuh di Desa Pondoh yang berada di Kabupaten Sleman. Ukuran salaknya besar, warna kulitnya coklat muda, dagingnya tebal, dan rasanya manis. Jenis salak inilah yang kemudian dibudidayakan oleh Pak Tarji.

Pengenalannya pada tanaman salak lebih lanjut diperolehnya saat ia bekerja di kebun salak milik saudaranya. Di sini Pak Tarji bekerja sampingan, karena deraan tekanan ekonomi. Tugas lelaki asal Madukara Banjarnegara ini adalah merawat kebun salak. Di sinilah Pak Tarji belajar banyak cara merawat pohon salak, mulai dari cara menanam, menyiangi, membersihkan, mengawinkan kembang salak, hingga memanen. Dari pekerjaannya ini pula Pak Tarji mengetahui bahwa bertanam salak bisa sangat menguntungkan.

Keinginannya untuk mengubah nasib, membuatnya menyewa dua petak berisi 900 batang pohon salak yang tidak terawat. Uang untuk menyewa ia pinjam dari saudaranya. Ia tahu bahwa pohon salak yang dirawat dengan baik, akan menghasilkan buah salak yang baik. Buah salak yang baik harganya mahal, sekitar Rp 5 ribu per kilogram. Perhitungannya tidak meleset. Dari lahan sewaan itu, dalam enam bulan dia berhasil mengumpulkan uang sekitar Rp 16 juta. Angka yang cukup besar bagi Sutarji yang sebelumnya selalu dilanda kesulitan keuangan. Sutarji pun semakin yakin bahwa menjadi petani salak merupakan satu-satunya cara yang ditempuh untuk lepas dari belitan ekonomi.

Ketemu Bank Surya Yudha

Sejak saat itu, Sutarji meyakini bahwa garis nasibnya berada di kebun salak, sehingga ia mulai berpikir untuk memperluas lahan garapan. Masalahnya, Pak Tarji tidak punya uang untuk menyewa kebun salak lagi. Hasil kebun sewanya selama ini banyak digunakan untuk menutup biaya perawatan. Kesulitan ini oleh Pak Tarji dikemukakannya kepada kerabatnya. Kemudian salah seorang saudaranya, menyarankan agar Pak Tarji mencari modal ke Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bank Surya Yudha. Memang kebetulan, saudaranya itu juga merupakan karyawan bank tersebut.

Pak Tarji sendiri sudah lama mendengar nama Bank Surya Yudha. Petugas Bank Surya Yudha sering mendatangi para petani di daerahnya dan menawarkan kredit usaha. Biasanya para petugas dari Bank Surya Yudha bukan sekadar menawarkan kredit, tetapi juga memberi saran jenis usaha yang cocok untuk calon nasabahnya. Dorongan yang kuat untuk memperluas lahan membuat Pak Tarji mendatangi Bank Surya Yudha di Banjarnegara, untuk mengajukan permohonan kredit.

Karena ada referensi, proses untuk mendapatkan kredit relatif mudah. Waktu itu Pak Tarji hanya memiliki satu sepeda motor dan tanah sekitar 300 meter persegi yang menjadi tempat tinggalnya. Karena Pak Tarji membutuhkan uang yang cepat untuk memperluas kebun garapannya, ia menjaminkan surat tanda kepemilikan sepeda motor. Menjaminkan tanah yang menjadi tempat tinggalnya terlalu berisiko.

Dengan jaminan satu-satunya sepeda motor bebeknya dia berhasil mendapat pinjaman Rp 6 juta. Jangka waktu pinjamannya juga pendek: hanya empat bulan. Tetapi menurut perhitungan Sutarji, dia sudah memiliki kebun salak sewaan yang hasilnya bisa digunakan untuk membayar cicilan utangnya. Dengan uang tersebut, Pak Tarji menyewa tanah seluas 4000 meter. Karena uangnya hanya Rp 6 juta, dia tidak bisa menyewa lahan kebun. Yang ia peroleh adalah lahan kosong yang harus ditanami sendiri. Tetapi Pak Tarji tahu bahwa lahan tersebut cocok untuk salak Lumut. Tanah yang disewa tahun 1989, langsung digarap, ditanami salak Lumut, dan baru menghasilkan setelah empat tahun dirawat.

Dalam empat bulan, sesuai perjanjian, Pak Tarji berhasil melunasi pinjamannya. Karena riwayat kredit yang baik, Bank Surya Yudha menawarkan kredit lagi dalam jumlah lebih besar. Pak Tarji yang masih merasa kekurangan lahan, tidak menolak. Kali ini besarnya kredit adalah Rp 8 juta untuk menyewa lahan salak seluas sekitar 6000 meter. Dengan kredit yang lebih besar, Bank Surya Yudha menginginkan jaminan yang lebih besar pula. Oleh karena itu, selain BPKB sepeda motor bebeknya, Pak Tarji juga menyerahkan girik (surat kewajiban membayar pajak tanah) yang atas bantuan Bank Surya Yudha segera diproses menjadi sertifikat hak milik tanah.

Bank Surya Yudha memang memiliki program sertifikasi tanah jaminan. Dengan program ini, bank menyimpan bukti kepemilikan tanah yang syah. Tetapi nasabah juga memiliki keuntungan, karena setelah kredit lunas akan menerima sertifikat tanah.

Menjadi Pemilik Tanah

Tidak ada kesulitan bagi Pak Tarji untuk menyelesaikan kewajiban pinjaman keduanya ini. Kebun salak sewaannya yang bertambah luas terus menghasilkan salak yang semakin melimpah. Namun bukan Sutarji kalau puas hanya menjadi penyewa. Kali ini dia ingin memiliki sendiri kebun-kebun tersebut. Menurut Sutarji, tanah selain dapat digunakan untuk memperluas lahan salaknya, juga dapat dimanfaatkan sebagai simpanan. Dalam pikirannya, simpanan yang paling baik adalah tanah. Harga tanah tidak pernah turun.

Praktis, pada tahun 2000, tanah yang dimiliki hanya tanah 300 meter tempat dia mendirikan rumah untuk keluarganya. Selanjutnya, Sutarji mulai mencari tanah. Ia sangat jeli dalam memilih tanah. Sedapat mungkin dia mencari tanah yang sudah ada kebun salaknya, tetapi tidak terawat. Dengan demikian, dia bukan hanya mendapatkan tanah, tetapi juga memperoleh kebun salaknya. Kalaupun sampai tidak memperoleh tanah yang sudah ada tanaman salaknya, dia akan memperhitungkan apakah tanah itu cocok untuk berkebun salak. Dari pengalaman, Pak Tarji mengetahui bahwa tidak semua tanah cocok untuk berkebun salak. Salak jenis Lumut harus ditanam di daerah berhawa agak sejuk. Apabila ditanam di dataran rendah, rasa buahnya berubah. Oleh karena itu, Pak Tarji berburu tanah di Kecamatan Madukara dan Bawang yang berhawa agak dingin.

Benar juga, Pak Tarji menemukan beberapa petak lahan salak yang kurang terurus di Kecamatan Bawang. Sayangnya, setelah dihitung-hitung hasil penjualan salak dari lahan sewa belum memadai untuk membeli lahan tersebut. Dia masih membutuhkan uang sekitar Rp 12 juta. Oleh karena itu, lagi-lagi Pak Tarji mendatangi Bank Surya Yudha. Girik rumah dan pekarangan yang masih dalam proses pengurusan menjadi sertifikat hak milik, diserahkannya kembali kepada Bank Surya Yudha. Dengan uang tersebut Pak Tarji bisa membeli lahan salak seluas 750 meter persegi yang resmi menjadi hak miliknya.

Tekad Pak Tarji untuk memiliki lahan lebih luas lagi tidak berhenti. Tahun 2002, setelah melunasi pinjaman Rp 8 juta, Sutarji mengajukan kredit baru. Kali ini nilainya Rp 15 juta untuk jangka waktu dua tahun. Untuk kredit sebesar itu, Pak Tarji menyerahkan sertifikat tanah tempat tinggal dan pekarangan serta sertifikat kebun salak yang telah dibelinya. Dari pinjaman tersebut ia bisa membeli tanah seluas 1700 meter dan menyewa satu hektar kebun salak berisi 800 pohon. Tahun 2004, pinjaman tersebut bisa dilunasi sesuai perjanjian.

Keberhasilan memiliki tanah dan pendapatan dari kebun salak yang terus meningkat, membuat Pak Tarji tidak ingin menjadi petani salak biasa. Dia berniat memiliki lahan lebih luas lagi. Dia juga tahu di daerahnya masih banyak kebun salak dan tanah yang apabila dikelola dengan baik akan memberi hasil yang menguntungkan. Kembali, Pak Tarji mencari tanah yang cocok untuk kebun salak dan mendapati tanah kebun seluas 2300 meter yang hendak dijual serta 1.700 meter kebun yang hendak disewakan. Berdasarkan perhitungan, untuk membeli dan menyewa tanah tersebut Pak Tarji membutuhkan dana sekitar Rp 60 juta. Jumlah yang sangat besar menurut ukurannya saat itu.

Melihat besarnya dana yang dibutuhkan, semula ada rasa sungkan dalam diri Sutarji untuk meminjam ke Bank Surya Yudha. Namun karena keyakinan bahwa berkebun salak adalah kunci keberhasilan hidupnya, dia memberanikan diri berkonsultasi dengan petugas bank tersebut yang memang rajin mengunjungi para petani, termasuk Pak Tarji. Bank Surya Yudha sendiri menilai bahwa rencana pembelian kebun salak oleh Pak Tarji memiliki prospek yang bagus. Selain itu, riwayat kredit Pak Tarji juga tanpa cacat. Setelah melewati serangkaian pembicaraan, akhirnya Pak Tarji mengajukan kredit sebesar Rp 60 juta untuk jangka waktu 30 bulan. Seperti sebelumnya, agunan yang diberikan adalah kebun salak yang sudah menjadi hak miliknya ditambah dengan rumah dan tanah pekarangan.

Sebenarnya, hubungan Pak Tarji dengan Bank Surya Yudha bukan sekadar hubungan pinjam meminjam uang. Setiap kali Pak Tarji mengajukan pinjaman untuk membeli tanah, pihak Bank Surya Yudha ikut meninjau tanah yang akan dibeli. Petugas bank tersebut ikut memberi nasihat mengenai prospek tanah untuk berkebun salak. Bukan hanya itu, Bank Surya Yudha juga selalu mengingatkan Pak Tarji untuk mencatat lahan miliknya, banyaknya salak yang dihasilkan dari masing-masing kebun, dan uang yang dihasilkan.

Bank Surya Yudha memang mengembangkan keakraban dengan nasabahnya. Petugas bank mendatangi para petani di pelosok Banjarnegara yang berbukit-bukit. Mereka mengajak diskusi para petani mengenai prospek usaha yang dapat dikembangkan, termasuk usaha berkebun salak. Apabila ada petani yang rencana usahanya dianggap layak dan membutuhkan dana, bank menawarkan kredit.

Dengan cara inilah petugas Bank Surya Yudha mengenal betul karakter calon nasabahnya. ”Umumnya, petani di Banjarnegara adalah orang yang baik. Mereka merasa bertanggung jawab untuk melunasi kreditnya sesuai perjanjian,” kata Agus Budi Santosa, salah seorang Direksi Bank Surya Yudha.

Keberhasilan mengelola kredit dalam jumlah besar ini membuat Pak Tarji semakin ‘berani’ mengajukan pinjaman-pinjaman baru untuk mendanai pembelian kebun salak. Selanjutnya, Pak Tarji mengajukan pinjaman lagi sebesar Rp 100 juta kepada Bank Surya Yudha. Setelah lunas, ia meminjam lagi dengan nilai dua kali lipat: Rp 200 juta. Kini, Pak Tarji memiliki kebun salak lebih dari lima hektar, ditambah dengan lahan sewaan.

Rajin Merawat

Di kalangan para pedagang salak di wilayah Banjarnegara, salak hasil kebun Pak Tarji sangat dikenal. Ukurannya besar-besar, warnanya coklat muda bersih, dan rasanya manis. Dengan kualitas yang baik, para pedagang dapat menjualnya ke berbagai supermarket. Maka tidak mengherankan, salak Pak Tarji menjadi rebutan para pedagang. “Bahkan ada pedagang yang tidak mau membeli kalau bukan salak saya,” kata Pak Tarji.

Karena menjadi idola, harga salak Pak Tarji juga lebih mahal dibanding salak-salak petani lain. Pada saat panen raya, ketika salak sedang melimpah ruah, harga salak umumnya jatuh hingga Rp 1.500 per kilogram. Namun demikian, harga salak Pak Tarji masih bertahan Rp 3.000 per kilogram. Di luar panen raya, harga salak di Banjarnegara sekitar Rp 4.000 per kilogram. Pada musim langka seperti itu para pedagang salak berani membeli salak Pak Tarji seharga Rp 7.500 per kilogram.

Kelebihan lain dari kebun salak Pak Tarji adalah bisa memanen satu minggu sekali, sementara petani lain hanya bisa memanen dua minggu sekali. Apa rahasianya? “Perawatan,” kata Pak Tarji. Menurutnya, selain pemilihan bibit yang baik, perawatan sangat menentukan kualitas hasil. Perawatan itu berupa menyiangi kebun sebulan sekali, membersihkan daun-daun kering dari pohon salak, memupuk enam bulan sekali, dan mengawinkan (menyerbukkan) bunga salak yang baik setiap hari. Semuanya harus dilakukan secara disiplin dan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, untuk mengelola kebunnya Pak Tarji mempekerjakan sekitar 10 orang setiap hektar guna merawat kebun dan memanen buahnya.

Mengenai penjualan hasil kebunnya, dia mengaku tidak memiliki masalah. Para pedagang datang sendiri. Pak Tarji juga memiliki hubungan yang lama dan baik dengan seorang pedagang pengumpul. Hubungan baik ini menyebabkan sikap saling percaya. Karena rasa saling percaya ini, bahkan ketika menimbang hasil panen, Pak Tarji tidak perlu menunggui. Dia hanya menerima catatan laporan hasil penimbangan dan menerima pembayaran. Pak Tarji sendiri tidak tahu persis ke mana salak hasil kebunnya dijual. “Menurut pedagang pengumpul, salak saya dijual ke berbagai supermarket di Jakarta, bahkan ada yang ke Palembang.”

Kini, dari setiap hektar kebun salaknya, Pak Tarji bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 12 juta per bulan. Karena Pak Tarji memiliki lima hektar kebun salak, Anda bisa menghitung sendiri berapa kira-kira penghasilan Pak Tarji setiap bulannya. Keberhasilan Pak Tarji ini mengundang banyak rekan petani mendatanginya untuk meminta nasihat mengenai cara berkebun salak. Mereka pun beramai-ramai mengubah lahan pertaniannya menjadi kebun salak. Itulah sebabnya di pelosok Banjarnegara kita menemukan begitu banyak kebun salak. Petani Banjarnegara benar-benar telah demam salak.

Mengenai rencana ke depan, Pak Tarji mengaku akan tetap menjadi petani salak. Sepanjang memiliki dana, ia akan terus membeli kebun salak yang tidak terawat dan mengubahnya menjadi lahan salak produktif. Ia juga akan terus membeli dan menyewa lahan-lahan yang cocok untuk tanaman salak dan menyulapnya jadi kebun salak unggul. Ia begitu yakin, nasib baiknya berada di kebun salak.

Pengalaman Eko Sutarji menunjukkan, untuk sukses dia harus memahami betul usaha yang ditekuninya. Dia sangat memahami jenis tanaman salak, lahan yang baik dan metode perawatan yang benar. Pak Tarji juga memiliki ketekunan di atas rata-rata petani pada umumnya dalam merawat kebun salaknya. Dalam hal penggunaan dana kredit, Pak Tarji menggunakanya hanya untuk membeli aset produktif: lahan salak. Dia tidak menggunakan pinjaman dari bank untuk perawatan kebun. Kunci sukses yang lebih penting adalah fokus. Pak Tarji menjaga hubungan baik dengan pedagang yang bisa dipercaya agar bisa fokus pada kebun salaknya.