Dari Es Lilin ke Bengkel Besar

Malang adalah contoh kota yang menjanjikan banyak peluang usaha. Kota ini bersih dan rapi, sejuk, tidak terlalu macet dan terkesan santai. Enak untuk kerja dan hidup. Tetapi bukan itu yang memberikan peluang bisnis. Malang adalah kota pelajar sekaligus kota wisata. Di mana-mana akan Anda jumpai banyak perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah, Brawijaya, Merdeka, Universitas Islam Malang, dan masih banyak lagi, masing-masing dengan gedung megah dan ribuan mahasiswa. Bayangkan berapa aliran uang datang dari berbagai daerah menuju kota ini melalui para mahasiswa. Konon, dari satu juta penduduknya, mereka punya 500 ribu sepeda motor! Kota ini juga kota wisata karena di sini banyak betul rumah yang dimiliki orang Jakarta dan Surabaya. Tidak heran kita akan menjumpai berbagai papan nama usaha kecil di semua sudut dan penjuru kota Malang ini.

Putus Sekolah

Bicara mengenai wirausaha, bagi Otje Suandito (50 tahun), seorang wirausahawan kota Malang, agaknya sekolah bukan segalanya untuk sukses—meski diakui memang penting. Simak saja kisahnya. Otje yang punya tiga orang anak yang semuanya sarjana ini, ketika ditanya dengan bangga menyebut gelarnya S4. SD kelas empat. “Andrie Wongso si motivator itu teman saya, sekampung dengan saya, dan senasib juga dengan saya,” katanya, maksudnya sama-sama hanya S4 tetapi sama-sama sukses.

Bagaimana bisa sekolah hanya sampai kelas empat? Semua itu berawal dari sebuah musibah berbau diskriminasi politik dan etnis, ketika sekolahnya yang berbahasa Mandarin ditutup pada tahun enam puluhan oleh keputusan pemerintah. Ia pun akhirnya tidak bisa sekolah lagi karena berstatus warga negara asing. Otje kecil putus sekolah pada usia 11 tahun di kelas 4 SD!

Bertahun-tahun kerinduannya untuk sekolah yang begitu menggebu-gebu, terjegal peraturan pemerintah sampai sekarang, hanya karena ia dilahirkan sebagai warga negara asing. Demi biaya untuk mengurus surat kewarganegaraan Indonesianya ia harus bekerja agar bisa sekolah. Harga selembar surat warga negara saat itu mencapai Rp 300 ribu, atau kira-kira setara dengan Rp 30 juta saat ini. Apalah daya Otje yang ayahnya hanya seorang sopir mobil? Sampai usia tua pun akhirnya ia tidak mampu melanjutkan sekolah.

Perjalanan Usaha

Apa akal? Tidak ada jalan? Memang benar-benar tidak ada jalan lain. Otje melanjutkan hidupnya di jalan satu-satunya yang terbuka untuknya: cari uang. Di usia 12 tahun Otje kecil sudah menjadi pengusaha betulan. Ia memulainya dari berdagang es lilin, es dibungkus plastik yang saat itu sedang tren di kalangan anak-anak.

Kemudian Otje beralih usaha. Penyewaan becak. Satu becak mampu dibelinya, meskipun tidak utuh, hanya rombong belakang dan setang depan. Sedangkan badan sepeda dan bannya ia dapatkan dari utang. Ketika ban becaknya kempes, terpaksa Otje belajar sendiri membongkar pasang becaknya. Teknik perbengkelan akhirnya ia tekuni karena ternyata disukainya. Itulah awal dari perjalanan karier yang ia geluti seumur hidupnya sampai sekarang.

Bakat dan minat ini ternyata membuahkan hasil. Tahun 1967/68 ia bertemu dengan seorang juragan kopi. Suatu kali mesin kopi di pabriknya rusak. Otje memberanikan diri untuk menawarkan jasa. Ternyata Otje berhasil membetulkannya, dan si juragan kopi pun bersimpati padanya. Otje pun dibiayai untuk usahanya. Inilah awal sebuah persahabatan dan kerja sama bisnis yang kemudian berlanjut sampai ke anak dan cucu mereka.

Pada usia 15 tahun, ia pun mulai belajar pinjam uang dari si juragan kopi untuk mendongkrak usahanya. Ia mendapatkan modal untuk membeli sepuluh becak. “Enak, mulai dapat setoran-setoran,” katanya. Beberapa tahun kemudian, zaman ternyata berubah. Otje muda ini mulai melihat ada peluang baru. Menuruti kata hatinya, ia kemudian banting setir menuju usaha perbengkelan. Dijualnya semua becak, dan ia pun membeli dua mesin bubut dan satu mesin scrap. Dari situlah kejayaannya dimulai.

Si pakar teknik yang bergelar S4 ini kemudian mendirikan salah satu bengkel terbesar di kota Malang! Praktis, apa saja yang terbuat dari besi baja ia buat. Ia pernah menjadi kontraktor besi baja untuk proyek bangunan. Ia juga bisa menghitung untuk proposal tender instalasi air minum, dan sukses. Ia bahkan bisa membuat plastik kemasan sampai pengisian airnya. Ia pun sanggup mereparasi dan memodifikasi aneka jenis mesin mobil dan mesin pabrik serta pertanian.

Kalau ada mesin rusak yang tidak bisa dibetulkan, cobalah datang ke bengkelnya seluas 2300 meter persegi di pinggir jalan di kota Malang sebelah utara. Di situ ia punya tim teknik yang siap mengutak-atik mesin untuk cari akal perbaikan. Pendeknya, segala yang berbau teknik ia bisa. Motonya, “Pokoknya semua harus bisa!” Di lokasinya itu, Otje membuka servis blok mesin, antara lain jasa colter, slip, bubut, scrap, konstruksi baja dan alat pertanian, servis fuel injection pump dan nozzle, serta suku cadang mobil. Di salah satu bengkel dengan peralatan cukup lengkap di Malang ini bisa dilakukan modifikasi, rekondisi, dan jual beli mesin apa saja.

Konsumennya adalah bengkel mobil dan pabrik dari berbagai daerah sekitar Malang hingga ke luar pulau. “Pokoknya yang susah-susah dan tidak bisa dikerjakan di bengkel biasa, dibawa ke sini,” ungkapnya. Kalau ada konsumen datang, pertama-tama akan dicari tahu persoalannya. Kadang-kadang solusinya mudah dan cukup pekerjaan rutin. Misalnya membesarkan atau mengecilkan lubang piston, mengatur blok mesin, atau membubut camshaft. Apa saja teknis pekerjaannya tidak bisa diuraikan di sini, karena harus dididik melalui kelas-kelas teknik mesin. Yang pasti ada mesin untuk mengatur lubang piston, mesin bubut, mesin untuk perbaikan piston, dan mesin-mesin lainnya.

Kadang solusinya tidak mudah ditemukan. “Biasanya kalau ada yang sulit hanya saya yang bisa,“ katanya. Lalu mengapa ia tidak melatih karyawan? “Pekerjaan ini memerlukan seni. Hal ini susah diturunkan pada anak buah. Karyawan sering tidak tahu. Mereka bisanya yang rutin saja,” jelasnya. Termasuk anak-anaknya sendiri tidak ada yang mampu mewarisi keterampilan teknis yang dimiliki Otje.

Namun demikian, pada kondisi sekarang usaha bengkel seperti ini sudah banyak pesaing. Penjualan menjadi berkurang. Apalagi produsen mesin sering membuat mesin yang tidak bisa diservis, tetapi harus diganti baru bagian-bagiannya. Pabrik-pabrik juga terus meningkatkan pemeliharaan dan kemampuan bengkel internal mereka. Karyawannya pun merosot dari 80 menjadi 40 orang. Bagi pengusaha biasa, kondisi semacam itu tergolong hal yang biasa, masih banyak peluang lain.

Otje kemudian membuka usaha baru dalam bidang lain termasuk bidang pembuatan air mineral kemasan dengan merek Aqucui yang dijalankan oleh anak-anaknya.

Awal Kredit Perbankan

Otje mengakui, usahanya dibesarkan dari kredit. Kredit bank bukan hal baru baginya. Sejak pinjamannya pada juragan kopi tempo dulu, ia biasa memanfaatkan kredit bank untuk pengembangan berbagai usahanya. Hampir semua investasi dan modal kerjanya didanai oleh kredit bank. Persaingan antarbank cukup sengit, jadi Otje banyak menerima tawaran dari berbagai bank. Namun ia cukup selektif dan teliti dalam memilih. Sampai kini ada dua bank yang menjalin hubungan rutin dengannya, yakni Bank BII dan BCA.

Kisahnya demikian, setelah sekian lama berkembang dari pinjaman juragan kopi, Otje merasa tidak sanggup berkembang hanya dengan modal sendiri. Ia pun akhirnya mulai melirik bank. Untuk investasi di lokasi usaha, mesin-mesin perbengkelan, dan modal usahanya, tahun 1995 Otje mulai mendapat pinjaman berjangka sebanyak Rp 200 juta dari Bank BCA. Kredit itu berhasil mengembangkan bengkelnya menjadi salah satu yang terbesar di kota Malang.

Setelah beberapa kali pinjaman, tahun 2004 ia mendapat kredit dari Bank BII sebesar Rp 2 miliar untuk lebih membesarkan lagi usahanya. Dan terakhir tahun 2008 ia mendapat kredit dari Bank BCA sebesar Rp 5 miliar untuk membuka pabrik baru di bidang air minum kemasan. Dari Bank BII ia juga masih mendapat kredit pinjaman berjangka dengan plafon Rp 750 juta untuk modal kerja bengkelnya.

Kredit investasi yang ia ambil rata-rata hanya berjangka waktu tiga tahun. Lagipula Otje gemar melunasi pinjaman itu secepatnya. Kredit modal kerja hanya ia pakai seperlunya saja sesuai kebutuhan, sehingga kadang hanya sedikit yang terpakai. Maklumlah, kredit semacam ini dipakai untuk modal siaga jika sewaktu-waktu ada proyek dalam ukuran lebih besar. Selain reparasi rutin, usahanya sering berdasarkan proyek. Jika ada borongan besar atau tender proyek mesin atau besi baja tentu kredit ini sangat diperlukan.

Mengapa ia memilih Bank BII dan BCA? Bank BCA ia pilih karena bank ini dipakai untuk transaksi dengan para pelanggannya yang ada di luar daerah termasuk di Kalimantan. Aktivitas usahanya sebagian besar memang menggunakan Bank BCA. Bank ini menurutnya juga cukup paham perputaran usahanya. Karena rekening korannya di Bank BCA, tentu hal ini mempermudah bank tersebut untuk memberikan kredit tanpa banyak perhitungan rumit.

Sedangkan Bank BII ia pilih karena menurutnya bank ini cukup mengenal industri, sehingga mereka bisa membuat perhitungan yang lebih teliti. BII dinilainya cukup profesional dalam menilai kelayakan proyek dan memberikan pinjaman pada pengusaha kecil-menengah sekelasnya. Dari segi pendampingan, Otje menilai bank-bank langganannya itu cukup baik. Hal senada dikatakan oleh Maggie Setiadi, Commercial Manager BII Malang, karena persaingan ketat sekarang ini membuat bank lebih rajin berkomunikasi rutin dengan nasabahnya.

Ia sebenarnya banyak ditawari oleh bank lain. Pernah suatu kali ia mengajukan kredit, namun ia dikecewakan. Hanya karena ada persoalan administratif kecil dalam agunan yang ia miliki, bank itu minta macam-macam persyaratan lagi, sehingga sangat merepotkan dari segi waktu dan biaya. “Bukan masalah agunan tidak cukup atau tidak benar, tapi waktunya itu yang repot,” kata Otje. Bank itu mungkin tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena mereka mengikuti standar yang telah ditetapkan. Jadi, sebetulnya bukan masalah administratif, melainkan karena banknya terlalu kaku dan tidak mengenal usahanya sehari-hari dengan baik.

Dari kasus Otje ini terlihat bahwa debitur dan perbankan sama-sama aktif dan saling memerlukan. Bagi Otje yang punya pengalaman baik dari keberhasilannya menggunakan utang pribadi pengusaha lain untuk mengangkat usahanya dari kecil, tidaklah sulit untuk mencari informasi seputar kredit dari berbagai bank. Ia tahu cara mencari informasi perbankan. Otje juga memegang teguh prinsip kepercayaan dengan bank. Sebagai pengusaha yang membangun usaha dari bawah, kepercayaan adalah mutlak baginya. “Sebesar apa pun utang, kita harus bertanggung jawab. Sekecil apa pun utang, kita harus bayar,“ katanya. Tipe pengusaha kecil yang ideal, bukan?

Fleksibel dan Pengalaman

Otje merupakan pengusaha yang berhasil menggunakan pinjaman bank untuk membesarkan usahanya, sehingga sampai saat ini usahanya terus berkembang. Dari lokasi kecil menjadi besar, dan semakin besar. Dari becak hingga bengkel dan pabrik air mineral. Dari satu lokasi menjadi beberapa lokasi. Sekarang ia sedang memikirkan diversifikasi ke arah pabrik baja atau pabrik kertas. Tidak heran bila nantinya Otje juga akan mencari kredit bank kembali. Pedomannya adalah bagaimana mencari bidang usaha dengan tingkat pengembalian yang lebih cepat dari bunga bank. Selain itu, kredit juga harus secepatnya dilunasi. Hanya dengan memenuhi dua hal itu saja, asetnya akan meningkat dalam waktu singkat.

Bank BII sendiri selama ini memang fokus pada sektor korporat. Namun strategi ini sudah mulai berubah, dan saat ini sudah dibentuk bagian yang menangani usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Proses pengajuan kreditnya juga cukup singkat, asalkan datanya cukup lengkap. Data penting adalah rekening koran, laporan penjualan, data penjualan harian, dan berbagai laporan lain. Agunan utama tentu adalah sumber pembiayaan yaitu usaha itu sendiri. Agun an tambahannya adalah aset tetap. Nilainya ditentukan berdasarkan skoring pada agunan utama, bila risikonya kecil, agunan ditentukan minimum 120% dari nilai kredit.

Persaingan antarbank memang sangat ketat saat ini. Sesuai dengan prinsip perbankan yang mengutamakan kepercayaan, nasabah dicari terutama dari referensi atau informasi positif. Informasi tersebut umumnya dari para pengusaha juga. Kontak pertama biasanya per telepon disusul oleh kunjungan.

Setelah kredit disalurkan, pembinaan dan pengawasan selanjutnya dilakukan dengan rutin. Pemantauan dilakukan pada fasilitas kredit yang diberikan, bagaimana pengembalian dan pencairannya, pola rekening koran, dan sebagainya. Pemantauan tetap dilakukan pada saat genting seperti krisis keuangan global tahun 2008 ini. Rusdy Wirana, Pemimpin Cabang BII Malang, mengatakan bahwa Bank BII terus memantau rantai bisnis para nasabah hingga bisnis hulu atau induknya. Misalnya, jika di kontraktor minyak terjadi masalah, maka yang akan terpengaruh secara berantai adalah berbagai industri di hilirnya. Namun situasi itu umumnya terjadi pada usaha skala besar.

Sektor riil di Malang masih berjalan cukup normal. Beberapa bidang usaha yang masih baik, menurut Maggie, berada pada sektor jasa, di antaranya jasa internet dan travel. Untuk sektor perdagangan memang agak melambat karena tingginya nilai dolar. Sedangkan untuk sektor industri terpengaruh oleh kenaikan harga BBM. Kebetulan Bank BII memiliki analis dan spesialis industri yang memantau perkembangan ekonomi dan menangani setiap sektor industri. “Account Officer kami sering diambil bank lain, karena mereka punya spesialisasi industri. Risk manager kami adalah spesialis setiap bidang industri,” kata Rusdy.

Bank memang diharapkan mengerti usaha nasabah, demikian pendapat Otje. Dengan konsumen yang tersebar di mana-mana, terutama di luar Malang, pertimbangan utamanya memilih bank adalah kemudahan bertransaksi dan transfer antarcabang. Untuk urusan pengajuan kredit, ia memilih bank yang cukup fleksibel dan tidak terlalu rumit dalam permohonan kredit dan persyaratan agunan. Ia juga menginginkan bank yang berpengalaman dan memahami usahanya.

Mengenai persyaratan agunan misalnya, Otje menyarankan, hendaknya bank tidak terlalu merepotkan dalam hal administratif kecil-kecil sehingga menyusahkan pengajuan kredit. Untuk monitoring, bank juga sebaiknya menjaga kontak rutin dengan nasabah kredit. “Jangan hanya waktu ada masalah atau terlambat membayar angsuran,” ujarnya lagi.

Bakat dan Modal

Prinsip hidup Otje lainnya juga menarik untuk direnungkan. “Coba pikir, untuk apa orang puasa 30 hari, sementara berhari raya hanya dua hari?” demikian pertanyaannya. “Sebab memang manusia harus bekerja keras, lebih banyak sengsara, lebih banyak bersusah payah, dan tekun. Senangi pekerjaan! Belajar dan terus belajar. Nanti kesenangan akan datang dengan sendirinya. Seperti hari raya, meski senang sebentar tetapi nikmat,” tandasnya. “Manusia harus bermasalah! Kalau ada masalah, itu kesempatan. Tangani sampai selesai. Manusia harus bermasalah, supaya jika kena masalah yang besar jadi biasa dan tidak stres. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan,“ tegasnya.

Kesuksesan bisnis merupakan hasil gabungan dari mental mau maju dan tidak takut masalah, jiwa yang menyenangi pekerjaan, namun juga keseimbangan dan pengendalian diri. Prinsip yang penting adalah pepatah Jawa klasik yang ia pasang di dinding kantornya: ”Aja rumangsa bisa, nanging bisaa rumangsa.” Artinya, jangan pernah merasa bisa, tetapi harus sadar diri, tidak boleh sok tahu atau menganggap diri serba bisa. Harus terus mau belajar dan jangan puas pada pengetahuan yang dikuasai, tetapi harus ukur diri supaya tidak berlebihan atau kebablasan. Prinsip ini bisa disebut prinsip progress and balance. Dari prinsip-prinsip itulah muncul mental mau maju dan belajar tanpa henti yang tak terbatas oleh pendidikan sekolah. Prinsip ini juga menyebabkan kehati-hatian, selalu teliti mengukur diri dalam pengeluaran dan investasi, serta berusaha untuk menjaga kepercayaan.

Kata orang, kendala usaha kecil adalah modal. “Bakat dulu. Baru modal!” Bakat—mencakup mental dan keterampilan—adalah hal pertama yang harus dipupuk, setelah itu modal akan datang dengan sendirinya. Pengelolaan keuangan termasuk kunci sukses .“Ukur kemampuan. Teliti. Pengeluaran harus diawasi. Kalau buka cek, saya selalu buat salinan rangkap dengan kertas karbon, untuk bukti. Hati-hati dengan utang. Meskipun diberi plafon kredit misalnya Rp 250 juta, pakai hanya seperlunya. Saya bahkan pernah hanya pakai 10%” ujarnya menutup pembicaraan.